Bagus Tidaknya Cara Kita Memimpin

Salah satu tantangan terbesar seorang atasan adalah memastikan bahwa dirinya sudah melakukan yang terbaik dalam memimpin anak buahnya. Perasaan sih, sudah semua dilakukan ya. Tapi, bagaimana caranya meyakinkan hal itu? Soalnya, tidak ada alat ukur yang benar-benar akurat. Paling-paling menggunakan prinsip 360 degres survey kan.

Masalahnya, hasil survey seperti itu sering tidak benar-benar akurat. Namanya survey, kadang diisi sekena-kenanya. Kadang tidak berani memberi jawaban yang sesungguhnya. Dan setelah ada hasilnya, kita tidak tahu secara spesifik ini jawaban dari siapa dan bagaimana harus menyikapinya kepada orang yang tepat. Jadi, gimana caranya untuk mengukur apakah kita sudah memimpin anak buah dengan baik atau belum?

Kisah Selembar Cek Seribu Pound Sterling

Suatu sore yang cerah Rio dan Bijak Kecil bersantai di taman kota. Sementara Bijak Kecil duduk di bangku taman membaca buku dari tablet elektroniknya, Rio terbang kian kemari di sekitar tuannya supaya aman.
Bijak Kecil sedang tenggelam dalam bacaannya ketika Rio hinggap di atas lututnya sambil menyapa: "Tuan! Tuan! Tuan! Cup...cup... cup!"

Bijak Kecil mengalihkan perhatiannya dari buku elektroniknya kepada burung beo kesayangannya dan ternyata Rio mencengkram selembar uang, ya, ampun seratus dolar.

Memutus Mata Rantai Kepemimpinan Yang Buruk

Coba sekali lagi perhatikan gaya kepemimpinan Anda. Apakah cara Anda memimpin anak buah kurang lebih seperti cara atasan Anda memimpin Anda? Ataukah Anda memimpin mereka dengan cara Anda sendiri? 

Kebanyakan orang sih, memimpin dengan cara yang nyaris mirip seperti para atasan mereka. Karena setiap pemimpin adalah produk yang dihasilkan dari proses pengkaderan oleh atasannya, dengan gaya dan cara mereka. Maka wajar jika cara pemimpin baru memimpin itu mirip dengan cara para pemimpin sebelumnya. Anda melihat fenomena yang sama?

Analisis Neraca Rugi Laba Karir Kita

Untuk kesekian kalinya saya bertemu dengan seseorang yang berhenti bekerja dengan alasan klasik; ‘gajinya tidak sesuai’. Lalu memilih untuk ‘menanti’ pekerjaan lain. Dulu saya mengira jika hal itu hanya terjadi pada karyawan level UMR. 

Namun ternyata tidak, karena ada juga professional kelas menengah yang lebih suka ‘tidak bekerja’ daripada dibayar ‘tidak tinggi’. Orang yang sampai mengambil keputusan ekstrim seperti itu memang tidak terlalu banyak. 

Namun, ada banyak orang yang ‘punya pikiran’ sama, hanya saja tidak sampai berhenti bekerja. Ada yang karena belum mendapatkan pekerjaan lainnya. Dan ada juga yang memang tidak kepikiran untuk pindah, sehingga hanya bisa mengeluh saja.

Kunci Tenteram Hati Saat Bekerja

Pic. Source: www.breathoflifedaily.com
Lah, mana bisa tenteram hati kalau kerja di kota besar seperti Jakarta. Justru orang bilang kalau kerja di Jakarta itu seteresss. Di jalanan macet. Dikantor sikut-sikutan. Pelanggan juga banyak maunya. Emangnya di kota lain selain Jakarta situasinya lebih baik gitu? Soal jarak tempuh ke kantor lebih singkat sih iyya. Tapi soal lainnya, apakah lebih bisa membuat hati kita tenteram? Nggak juga. Kalau dipikir-pikir sih, yaa plus-minus ajalah. Ada kurangnya, dan ada pula lebihnya. Artinya, bobot tantangannya kira-kira sebandinglah. Terus bagaimana dong caranya untuk bisa tenteram hati?