Menyiapkan Kenangan Buat Masa Pensiun

Anda bekerja di perusahaan sendiri atau milik orang lain? Kalau Anda seorang pekerja, berarti Anda akan pensiun kan? Lalu, kebanggaan atau kepuasan batin apa sih yang bisa Anda dapatkan setelah pensiun? Dana pensiun yang Anda terima, belum tentu membuat Anda bangga. Apa yang bisa dibanggakan dari uang pensiun kan? Jumlahnya juga nggak sampai hitungan triliun. Jadi, mesti ada hal lain yang bisa membuat kita bangga selepas pensiun. Apa?

Mari bercita-cita bahwa pada saat pensiun kita semua telah menjadi atasan.
Punya anak buahlah, meskipun jumlahnya nggak banyak. Nah, anak buah kita itulah yang bisa menjadi modal membangun kebanggaan profesional kita. Silakan simak kalimat ini: ”Sekarang yang menjadi pimpinan-pimpinan disana itu semua mantan anak buah saya loh...”

Saya, bukan satu atau dua kali mendengar pernyataan seperti itu. Sering. Diucapkan para pensiunan. Dengan postur penuh kepuasan serta nada sarat kebanggaan. Memang benar kok, yang akan menjadi kebanggaan terbesar bagi kita setelah pensiun kelak adalah; kesuksesan karir orang-orang yang pernah kita pimpin. Jika kita berhasil membimbing mereka hingga mampu mencapai karir yang baik, maka kita akan ikut bangga dengan pencapaian mereka. Itu menunjukkan bahwa mendidik dan mengembangkan anak buah; sama artinya dengan menabung untuk kebanggaan dan kepuasan profesional kita dimasa depan.   

Orang yang pensiun meninggalkan anak buah pada beragam posisi strategis biasanya adalah orang yang pensiun dengan bangga. Puas mereka karena dibelakangnya mewariskan generasi penerus yang maknyus. Meskipun pencapaian itu ditentukan juga oleh usaha keras masing-masing, namun peran atasannya tidak bisa dinihilkan. Dan itu, akan menjadi kenangan indah yang menimbulkan kebahagiaan dimasa pensiun. Beda dengan para pensiunan yang nggak meninggalkan kejayaan bagi anak buahnya. Jika anak buahnya pada memble, mau membanggakan apa kan? Hampa rasanya masa pensiun kita.

Padahal, dimasa pensiun kelak kemungkinan besar mayoritas waktu kita dijalani dalam dunia penuh ’kekosongan’. Kekosongan yang dihasilkan dari tidak adanya kesibukan. Sewaktu masih aktif kerja, kita sibuk. Sehingga tidak ada kesempatan bagi pikiran kosong. Saat pensiun, pikiran cenderung ’menerawang’ melalui waktu dilorong kosong melompong. Jiwa mencari kenangan masa silam yang kita tinggalkan. Jika kenangan itu membanggakan, maka jiwa kita dimasa tua akan penuh rasa bahagia. Namun, jika kenangan masa lalu ditempat kerja itu sama sekali nggak ada yang layak dibanggakan; maka jiwa kita akan merasa tertekan.

Jadi, apa sih imbalan membantu anak buah supaya berkembang? Banyak loh imbalannya. Bukan cuman kepuasan batin, my friend. Materi juga nambah kok. Buktinya banyak. Orang yang berhasil mendidik anak buahnya biasanya mampu membuat pencapaian unit kerja menjadi sangat baik. Bonusnya juga lebih baik dong daripada team lain yang biasa-biasa saja. Atasan yang anak buahnya pinter-pinter, biasanya dapat take-home pay yang lebih besar daripada atasan yang cuek bebek.

Dari sisi beban kerja. Atasan yang rela dan berhasil mengembangkan anak buahnya biasanya lebih bisa menikmati hidupnya semasa bekerja. Urusan kerja selesai oleh anak buah yang dididiknya. Sehingga nggak mesti kalang kabut sendirian. Banyak kan atasan yang pelit ilmu, males mengajari anak buah dan pada akhirnya diperbudak oleh pekerjaannya sendiri yang bertumpuk-tumpuk dan nggak ada habis-habisnya.

Dan. Itu tadi yang terpenting. Kelak kalau kita pensiun. Ketika hidup kita lebih banyak ditopang oleh memori dan nostalgia. Keberhasilan kita mendidik anak buah itu akan menjadi kenangan indah yang membuat hati kita bahagia. Jiwa kita tenang lagi tenteram. Karena setiap kali kita melihat kesuksesan mantan anak buah kita; maka kita ikut merasakan kegembiraannya. Dan hari tua kita pun diliputi oleh perasaan lega.

Makanya my friend, mumpung belum pensiun. Mari didik dan kembangkan anak buah. Untuk mereka. Dan untuk menjadi tabungan ketenangan jiwa kita ketika pensiun kelak. Bagaimana caranya? Bikin gampang saja. Wariskan ilmu atau keahlian Anda kepada mereka. Bantu mereka untuk mengoptimalkan potensi dirinya. Dukung mereka untuk meraih pencapaian tinggi dalam karirnya. Saya paham, jika Anda tidak bisa melakukannya sendirian. Makanya sesekali Anda undang dong pembicara dari luar untuk memfasilitasi pelatihan bagi anak buah Anda. Supaya sukses mereka, bisa menjadi kisah indah yang kelak enak untuk dikenang.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman

Catatan kaki:
Setelah memasuki masa tua, tubuh kita tidak lagi bisa mencerna harta benda. Makan pun hanya sekedarnya saja. Karena dimasa tua, rasa lapar kita berpindah kepada kenangan-kenangan indah yang pernah kita ukir dimasa lalu. Bersama orang-orang yang pernah dekat dengan kita.

Baca artikel-artikel terbaik yang tidak boleh dilewatkan di bawah ini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar