Inspirasi : Tidak Harus Hitam Atau Putih


Ketika saya di sekolah dasar, saya terlibat dalam sebuah perdebatan seru dengan seorang teman saya di kelas. Saya sudah lupa perdebatan tentang apa, tapi saya tidak pernah lupa pelajaran yang saya dapat hari itu.

Saat itu saya yakin kalau saya benar dan dia salah. Begitu juga dia yang yakin bahwa dirinya benar dan saya yang salah. Akhirnya guru kami memutuskan untuk memberi pelajaran penting kepada kami. Dia membawa kami ke depan kelas dan menempatkan teman saya pada sisi mejanya, sedangkan saya berada pada sisi lainnya. Di tengah-tengah mejanya ada sebuah benda yang lebar dan bundar. Saya bisa melihatnya dengan jelas bahwa benda itu berwarna hitam. Guru saya bertanya kepada teman saya, benda itu berwarna apa.

Saling Memahami


Di suatu senja, sepasang suami istri berdebat cukup sengit di dalam kamar. Perdebatan itu berkembang menjadi pertengkaran & mereka melemparkan kata-kata yang tak semestinya diucapkan.

Persoalan yang pernah terjadi di masa lalu, yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah yang sedang mereka bicarakan saat itu di ungkit kembali. 

Dalam pertengkaran dimana emosi sudah tidak terkendali, maka rekaman kepedihan & sakit hati di masa lalu yang sudah dimaafkan namun tak dilupakan, akan kembali diputar & dinikmati dalam keperihan. Pertengkaran mampu mencairkan lagi semua perkara yang sudah dibekukan.

Ketika suami istri itu berteriak satu dengan yang lain & hampir saja lepas kendali, tiba-tiba perlahan pintu kamar mereka dibuka sedikit. Sebuah tangan mungil terulur & menaruh selembar kertas di engsel pintu. Kehadiran si tangan mungil mampu menutup kedua mulut yang ramai bertengkar itu.

Bapak adalah Panutan Anak di setiap Keluarga


Saya mendapat cerita seorang kawan saya, yang memiliki profesi sebagai seorang agen asuransi.

Selama ini dalam melakukan profesinya sebagai agen asuransi, dia kerap kali berangkat dari rumah pada siang hari untuk prospek dan mengunjungi klien atau calon klien.

Pernah suatu ketika kawan saya mendengar percakapan 2 orang puterinya. Santi (bukan nama asli): "Siska, papa kita kerja apa ya? Kok selalu berangkat siang hari?"
Siska (bukan nama asli): "Saya juga tidak tahu, apa yang dikerjakan papa.
Papa kerja tidak seperti papa teman-teman kita, yang selalu berangkat pagidan kembali malam hari!"
Santi: "Ya, saya juga sering mendapat pertanyaan itu dari teman-teman di kelas.
Karena pada saat saya dan seorang teman pulang ke rumah, papa masih di rumah dan tidak bekerja."

"1,5 Derajat"

Bulan September 1983, pesawat Korean Airlines dengan nomor penerbangan 007 berangkat dari Alaska menuju Korea. Rupanya ada kesalahan "kecil" pada komputer navigasi yang tidak diketahui oleh para awak. Arah penerbangan bergeser 1,5 derajat saat berangkat.

Setelah 100 mil, perbedaan itu masih belum dideteksi. Namun pesawat 747 itu terus melenceng dari jalur yang seharusnya, hingga akhirnya melintasi wilayah udara Uni Soviet. Radar Rusia menangkap kesalahan itu, dan jet Rusia mencegat Korean Airlines 007 dan mengeluarkan tembakan yang menyebabkan semua penumpang Korean Airlines meninggal. Hanya gara-gara selisih 1,5 derajat!

Berapa sering kita membiarkan perbedaan "1,5 derajat" dalam hidup kita? Kita berkompromi dan membiarkan standar moral kita bergeser "sedikit" lebih rendah dari apa yang kita ketahui sebagai kebenaran: sedikit kebohongan, sedikit menurunkan mutu, sedikit selingkuh, sedikit pornografi, dan "sedikit" lainnya.

Kita berpikir "sedikit" ini tidak akan berpengaruh. Salah besar! Tanpa disadari, kita menurunkan standar dan terseret dalam dosa yang lebih besar. Maka itu jika kita sudah merasa hidup kita mulai bergeser dari jalur yang benar, lekaslah arahkan diri kita kembali ke jalurnya dan jangan biarkan penyimpangan ini berlarut-larut.

Copas Group  Motivator
By Fx Fredy Sutanto 

Aku Minta Maaf, Ayah...


Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istriku sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan seorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.

Begitulah yang kurasakan, karena selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anakku.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anakku masih tertidur. Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya.
Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anakku yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.