Kerja Sama Antara Dokter dan Medical Representative


Artikel ini saya dapatkan dari www.eksekutif.co.id , judul aslinya "Jika Dokter dan Farmasi "Berselingkuh"". Hal ini pernah diungkapkan oleh tayangan SIGI di SCTV beberapa tahun yang lalu. Aroma kerja sama ini ada, tapi memang susah untuk dibuktikan. Silakan nikmati artikel lengkapnya:

************************************************


Melalui medical representative (medrep), perusahaan farmasi membujuk habis para dokter. Iming-iming hadiah, insentif, hingga bonus wisata bersama keluarga menjadi senjatanya. Targetnya, sang dokter mau meresepkan obat produknya kepada para pasiennya.
Sore itu, sebuah surat elektronik eksekutif terima dari seorang sumber yang berada di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pengirim e-mail itu adalah
seorang dokter yang memang ekskutif minta untuk menceritakan pengalamannya seputar praktik kongkalikong antara medical representative (medrep) sebuah perusahaan farmasi dengan sebagain dokter di rumah sakit tempat ia bekerja.

Dalam surat elektronik tersebut, sang dokter yang menolak disebutkan identitasnya ini menceritakan banyak hal. Namun, di awal suratnya itu, ia menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari dokter yang mudah “dirayu” oleh para medrep yang acap mendatanginya untuk mempromosikan obat yang mereka tawarkan. “Saya berusaha untuk profesional. Saya khawatir ini jadi tidak berkah,” tulis sumber tersebut.

Sumber ini menceritakan, beberapa waktu yang lalu ia menerima telepon dari seorang teman sejawat (sesama dokter) yang juga bekerja di rumah sakit tempat ia praktik. Temannya itu mengabarkan sedang berada di Jakarta, menginap di salah satu hotel berbintang lima, karena sedang mengikuti kongres yang disponsori oleh salah satu perusahaan farmasi besar yang berkantor pusat di Jakarta.

“Dengan bangga dia cerita ke saya, betapa baiknya si perusahaan tersebut. Mau membiayai seluruh perjalanannya dari kota yang jauh, menginapkannya bersama seluruh keluarganya di hotel berbintang. Bahkan, memberikan uang saku bagi istrinya untuk pergi berbelanja ke mal, selagi dia mengikuti kongres,” kata sumber ini. 


Belum lagi, lanjut e-mailnya, temannya itu mendapat bingkisan berbagai pernak pernik dan souvenir berhias logo perusahaan farmasi yang mesponsorinya itu untuk dibawa pulang ke kampungnya di Makassar. “Dia juga memuji-muji produk obat baru yang dipromosikan perusahaan tersebut, yang menempati satu sesi presentasi khusus dalam kongres itu,” tambahnya.  

Mendengar kisah bangga teman sejawatnya itu, bukan ikut merasakan senang. Ia malah mengaku prihatin dengan perubahan kawan seprofesinya itu. Sumber ini bahkan berseloroh, dulu kawannya itu dikenal berhati lugu, namun kini hatinya sudah berlogo perusahaan farmasi yang mensponsorinya itu. 

Sumber ini mengakui, bahwa obat-obatan produk perusahaan yang mensponsori temannya itu kini cukup banyak masuk ke rumah sakit tempat ia bekerja. “Saya yakin, teman saya itu tidak ragu untuk menuliskan resep obat-obat itu untuk para pasiennya, meskipun saya sendiri tidak pernah melihat langsung,” ujarnya.

Sumber eksekutif ini juga mengakui, bahwa hampir seminggu sekali dirinya didatangi para pekerja farmasi yang juga dikenal dengan detailer ini. “Hampir semua dokter di rumah sakit saya sering didatangi medrep. Kadang penampilan mereka seperti selebritis saja,” tambahnya.

Kisah di atas, hanyalah satu dari sekian banyak praktik “perselingkuhan” antara dokter dengan perusahaan farmasi. Para medrep atau detailer dengan bendera perusahaannya melancarkan strategi pemasaran yang sangat agresif dan jitu. Siapa yang bisa memaksa pasien membeli obat tertentu, kalau bukan tangan dokter yang menuliskannya di kertas resep?

Tak banyak orang awam yang menyadari bahwa persaingan di industri obat sebetulnya cukup alot, mulai dari biaya riset yang mahal hingga aturan harga obat yang tidak boleh dibandrol terlalu mahal karena bisa merongrong kocek pasien. Akibatnya, produsen farmasi yang tidak sabar, menggaet dokter untuk ikut membantu memasarkan obat kepada pasien. Sebagai balasannya, dokter kerap diberikan sponsor untuk berlibur bersama keluarga yang berkedok pertemuan ilmiah, bahkan ada produsen obat yang terang-terangan memberikan komisi. Cara seperti ini, tampaknya sudah menjadi tahu-sama tahu antara dokter dan produsen obat.


Untuk memastikan lebih jauh tentang fenomena praktik “perselingkuhan” di dunia kesehatan ini, eksekutif  juga menggali informasi dari beberapa sumber lain yang juga seorang medrep. Dari beberapa medrep yang ditanyai, ternyata jawaban mereka hampir sama. “Ya, memang begitulah praktik kami selama ini,” ujar seorang medrep kepada eksekutif.

Medrep Memiliki Data Dokter
Fungsi medrep atau detailer sesungguhnya sebagai agen penjualan obat ethical kepada target pasar, yakni apotek dan rumah sakit. Tugas mereka jelas, memperkenalkan produk, baik dari sisi fungsi, manfaat, maupun efek samping, karena produk itu memang tidak diiklankan.
Namun, peran mereka rupanya dari waktu ke waktu makin bergeser. Tidak lagi sekadar agen obat, melainkan juga fasilitator untuk banyak kepentingan, baik dari sisi dokter atau rumah sakit maupun dari sisi produsen. Mereka bekerja untuk mempertemukan dua kepentingan yang sama: uang.

Pambagiyo, seorang dokter yang berpraktik di salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan menyebutkan, praktik yang dijalankan medrep seolah-olah sangat wajar. Misalnya, memperkenalkan produk dengan membawa makanan kecil ke apotek atau rumah sakit. Perkenalan diteruskan dengan bincang-bincang intens menyangkut hobi dan kesukaan dokter. Tidak ketinggalan, kadang medrep meminta apotek membeli obat yang direkomendasikan dengan iming-iming diskon, atau bahkan menjanjikan setengah penjualan obat itu untuk apotek.

Hebatnya lagi, medrep tidak membiarkan apotek bekerja sendiri dengan menunggu pembeli. Lewat medrep pula, perusahaan farmasi mendorong dokter atau rumah sakit di sekitar apotek untuk meresepkan obat yang sama. “Saya melihat, cara kerja medrep rapi sekali, semua dibantu dan diuntungkan, kecuali konsumen,” ujar seorang sumber eksekutif ini.
Dokter spesialis ini mengatakan, medrep sekarang makin blak-blakan dan bergerak cepat. “Mereka kadang tanpa ragu-ragu minta ‘bantuan’ para dokter untuk diresepkan produknya,” ujarnya. 

Namun, bak seorang agen rahasia, kadang ada juga seorang medrep yang datang dengan sejumlah data. Biasanya medrep sudah mengantongi data lengkap pasien yang berkunjung ke dokter, tempat praktik, dan informasi tentang keluarga si dokter. “Jadi, rupanya, diam-diam mereka mengamati saya,” imbuh dokter spesialis penyakit dalam ini.

Menurut pengakuan seorang medrep sebuah perusahaan farmasi lokal di Jakarta, bagi dokter yang dianggap unggulan, karena memiliki potensi pasien besar, digunakan pendekatan yang lebih seru, yakni mengundang jamuan makan malam. Namun, pada pertemuan informal itu, seorang medrep tak sendiri menemui. “Biasanya, saya ditemani seorang manajer atau bahkan manajer senior,” ujarnya.

Pertemuan itu dimaksudkan untuk langsung mempromosikan keunggulan obat dan hitung-hitungan reward yang bakal diberikan. Di pertemuan ini mereka bicara blak-blakan, tanpa malu-malu. Seperti bernegosiasi. “Ada juga negosiasinya berupa terima insentif bulanan dari pabrik obat yang bersangkutan,” sumber pria yang sudah lima tahun lebih bekerja di perusahaan farmasi ini.

Masih menurut dokter Pambagiyo, dari pengalamannya selama didekati orang farmasi, ia “memuji”, perusahaan farmasi kini makin “pintar” memilih iming-iming hadiah. Seperti yang ia pernah alaminya beberapa tahun lalu, tiba-tiba ia mendapat bonus laptop merek Toshiba dengan spesifiksi tinggi dengan ucapan “Selamat Tahun baru dan terima kasih telah membantu mereka. “Buat saya ini agak aneh, bagaimana mereka bisa tahu kalau anak saya sedang membutuhkan barang ini untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Padahal, saya tidak pernah menceritakan kalau saya mau membelinya buat anak saya,” ujarnya keheranan.

Seorang mantan medrep senior sebuah perusahaan farmasi asing juga mengaku tidak heran dengan taktik medrep tersebut. Menurutnya, amat mudah melacak kebutuhan keluarga dokter. Dalam hal ini, yang penting adalah hitung-hitungan bisnis. “Selama permintaan atau kebutuhan itu sesuai dengan bujet, hadiah dalam bentuk apa pun tidak masalah,” katanya.

Bak Buah Simalakama
Fenomena praktik “perselingkuhan” juga diakui praktisi bisnis farmasi di Jakarta Kendrariadi Suhanda. Namun, menurut Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) ini, umumnya mereka menyembunyikan masalah ini, karena berisiko jika ketahuan.

Untuk mencegah terjadinya praktik “perselingkuhan” ini, menurut Kendrariadi, dibutuhkan komitmen dari semua pihak baik dari para dokter maupun perusahaan farmasi. Jika praktik kotor ini dibiarkan, maka yang jadi korban adalah konsumen dalam hal ini masyarakat. “Obat jadi mahal, karena biaya “promosi” tadi itu kan cukup mahal, yang akhirnya perusahaan akan membebankan pada konsumen,” ujarnya.

“Perselingkuhan” antara dokter dan produsen obat-obatan memang bak buah simalakama. Di tingkat perusahaan, manajemen mencoba untuk mencegah tidak terjadinya praktik melanggar etik itu, namun di level bawah (medrep) kadang berjuang untuk mendapatkan sale. “Itulah fakta yang terjadi selama ini,” tambahnya.

Ketua Majelis Kode Etik Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) M. Syamsul Arifin menyebutnya ini bukan fenomena baru, tetapi sudah lama terjadi. Namun ia mengatakan, data pelanggaran etik perusahaan farmasi anggota GPFI, dari 200 perusahaan farmasi tidak sampai 5% yang melakukan pelanggaran ini dan ditangkap. “Tapi, kami tidak bisa langsung memberi sanksi, karena yang kita tangkap itu, kebetulan istilahnya maling-maling kecil. Paling kita kasih peringatan atau pembinaan. Tapi kalau kasusnya besar, maka harus diproses. Itu kesepakatan GP Farmasi dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia),” ujarnya kepada eksekutif.     

Kebutuhan perusahaan farmasi terhadap medrep cukup besar. Menurut Kendrariadi, keberadaan medrep merupakan ujung tombak untuk mengenalkan produk farmasi baik kepada dokter maupun apotek. Untuk menjadi seorang medrep, disukai berlatar belakang pendidikan farmasi atau apoteker. Pasalnya, seorang medrep dituntut menguasai bidang farmasi, khususnya jika untuk berhadapan dengan para dokter dan mengenalkan obat-obatan produk baru. 

“Kalau dulu, perusahaan farmasi biasanya menggunakan obat sample. Tapi sekarang tidak boleh, karena banyak disalahgunakan. Sample yang mestinya diberikan gratis itu dikumpulkan lalu dijual oleh oknum medrep ke pasar-pasar obat,” ujarnya.

Maraknya praktik persekongkolan antara dokter dan perusahaan farmasi melalui medrep, akhirnya membuat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan GP Farmasi Indonesia  merasa perlu untuk membuat kesepakatan bersama pada tahun 2007 lalu, di Kementerian Kesehatan.
Ada tujuh poin yang disepakati yang ditandatangani kedua organisasi ini. Di antaranya: dokter dilarang menjuruskan pasien membeli obat tertentu, karena dokter telah menerima komisi dari perusahaan farmasi; dukungan perusahaan farmasi pada pertemuan ilmiah dokter tidak boleh dikaitkan dengan kewajiban mempromosikan atau meresepkan suatu produk; perusahaan farmasi dilarang memberikan honorarium kepada dokter untuk menghadiri pendidikan kedokteran (kecuali jika menjadi moderator); donasi pada profesi kedokteran tidak boleh dikaitkan dengan penulisan resep atau penggunaan produk perusahaan tertentu; dan beberapa poin kesepakatan lainnya.

Permasalahannya, dengan adanya kesepakatan ini, apakah akan meredupkan praktik-praktik culas para perusahaan farmasi dalam mempromosikan produknya? Tidak ada  jaminan, memang. Semua dikembalikan pada kejujuran dan perilaku para dokter sebagai tempat mengeluhnya para pasien dan para produsen obat sebagai pemasok kebutuhan produk kesehatan.


DAPATKAN E-BOOK ISTIMEWA 'MENGUPAS TUNTAS RAHASIA INTERVIEW KERJA", KLIK DI SINI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar