Rasa Syukur, Kenikmatan, Dan Kebahagiaan


Kita tidak pernah berhenti mencari kebahagiaan. Meskipun sangat sulit untuk mendefinisikannya. Kebahagiaan itu apa dan seperti apa. Tidak mudah untuk memahaminya. Maka kebahagiaan sering menjadi terlampau abstrak untuk bisa kita rengkuh ke alam realitas. Orang miskin mengira orang kaya lebih bahagia karena segalanya serba ada. Orang kaya, banyak yang menilai betapa bahagianya orang-orang miskin yang terbebas dari belenggu hutang hingga ratusan juta bahkan milyaran. Jadi sebenarnya kebahagiaan itu apa?  Dalam pencarian atas kebahagiaan itu, saya sering merasakan kenikmatan. Ketika uang saya sedikit – misalnya – saya merasa nikmat. Ketika uang saya sedang banyak, juga terasa nikmat. Ketika sakit, terasa nikmat. Saat sehat juga nikmat. Saat sendiri nikmat, ramai-ramai juga nikmat. Jika kenikmatan-kenikmatan kecil itu kita kumpulkan, lalu dirangkai dalam rentang waktu yang panjang, maka perasaan batin kita menjadi sedemikian nyaman. Pada saat-saat seperti itulah kita merasakan kebahagiaan. Apakah Anda merasakan hal yang sama?
Laksana sebatang pohon; Kebahagiaan itu adalah buahnya. Kenikmatan adalah batangnya. Sedangkan akarnya adalah; rasa syukur. Mau tumbuh dimana buah jika tidak ada batang yang menyangganya? Bagaimana batang bisa tegak jika tidak memiliki akarnya? Maka begitu pula kebahagiaan yang kita cari-cari itu. Tidak mungkin kita bisa meraih kebahagiaan tanpa kemampuan untuk merasakan kenikmatan. Dan kita tidak mungkin bisa menikmati apapun jika tidak memiliki rasa syukur. Maka, untuk bisa meraih kebagiaan itu, kita membutuhkan rasa syukur atas semua nikmat yang kita dapatkan. Karena dari rasa syukur itu akan tumbuh pohon kenikmatan yang kokoh. Barulah pohon kenikmatan itu bisa berbuah kebahagiaan. Jadi, untuk menemukan kebahagiaan; kita perlu terlebih dahulu memiliki rasa syukur itu. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memiliki akar rasa syukur, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:    

1. Titik awal menuju kebahagiaan. 
Untuk menuju kebahagiaan, ada rute sederhana yang lurus tidak berkelok. Datar tidak terjal. Halus tidak kasar. Dan aman tidak berbahaya. Dalam rute itu ada titik pemberangkatan bernama ‘rasa syukur’ – jalur untuk dilalui bernama ‘kenikmatan’, dan – tempat tujuan bernama kebahagiaan. Bahagia itu titik terjauh dalam rute perjalanan kita. Sedangkan kenikmatan itu adalah apa yang sepatutnya kita rasakan selama menempuhnya. Rasa syukur ada dimana? Ada didalam daftar opsi atau pilihan hidup kita. Kita boleh memilih untuk memulai perjalanan ini dengan bersyukur sehingga bisa masuk kedalam jalur kenikmatan. Kita juga boleh memilih untuk tidak bersyukur sehingga apapun yang kita dapatkan akan menghasilkan keluh kesah. Konsekuensinya, jika kita memulai dari pos rasa syukur, maka apapun yang kita alami disepanjang perjalanan itu akan penuh dengan kenikmatan sehingga diakhir perjalanan; semua kenikmatan itu diakumulasikan menjadi kebahagiaan. Sebaliknya, jika memulainya dari titik ‘bukan rasa syukur’ maka bahkan semua kemewahan pun tidak akan menghasilkan kenikmatan sehingga tidak mungkin kita bisa meraih bahagia itu. Jadi, mari kita berfokus kepada titik awal pemberangkatan yang bernama ‘rasa syukur’.

2. Rasa syukur atas hidup. 
Jika ada orang yang ‘menyesali hidup’, maka itu menunjukkan kalau orang itu tidak memiliki rasa syukur atas hidup yang sudah dia dapatkan. Bukan hidupnya yang membuat kita menyesal, melainkan kualitas hidup itu sendiri. Tidak relevan jika kita menyesali hidup karena kualitasnya. Karena  hidup itu dihadiahkan oleh Tuhan. Sedangkan kualitasnya, ditentukan oleh ikhtiar yang kita lakukan. Baik atau buruknya kualitas hidup kita sedikit banyak ditentukan oleh kemauan, usaha, kerja keras, dan kegigihan kita untuk memperjuangkannya. Jika kita tersisih dari arena perjuangan itu, mengapa lantas kita salahkan hidup? Kita tentu tidak termasuk orang yang menyesali hidup. Namun, seringkali kita menyesali hal-hal yang ‘tidak kita lakukan’ dimasa lalu. “Oh, seandainya dulu saya begini-begitu, tentu sekarang saya blablabla..” bukankah begitu sesal yang sering kita dengarkan dari dalam? Maka wajar jika Sang Pemberi Hidup menyeru kita untuk mensyukuri hidup. Dia sanggup merenggutnya sejak kemarin. Tapi sampai sekarang kita masih juga hidup. Juga wajar jika kita bersyukur atas anugerah itu dengan menjadikan kehidupan kita baik didalam pandanganNya. Karena tidak ada cara yang lebih baik untuk mensyukuri hidup, selain mengisi hari-hari dalam hidup kita dengan tindakan dan perbuatan yang disukai Sang Pemberi Kehidupan.

3. Rasa syukur atas kemudahan. 
Sudah berapa banyak kemudahan yang Anda dapatkan? Tubuh Anda sempurna sehingga segala urusan bisa Anda lakukan tanpa hambatan. Ban motor atau mobil Anda terhindar dari paku dijalan sehingga perjalanan Anda tidak mengalami hambatan. Kompor gas Anda menyala normal sehingga masakan Anda bisa matang. Anak-anak Anda sehat sehingga Anda bisa pergi ke kantor dengan tenteram. Gigi Anda afiat sehingga semua aktivitas harian bisa dijalani dengan nyaman. Ada lagi kemudahan lainnya? Banyak. Bahkan guru kehidupan saya mengingatkan; “Jika engkau menghitung-hitung kemudahan yang sudah Tuhan berikan, takkan mungkin engkau sanggup menghitungnya.” Sekarang, apa yang kita lakukan dengan sekujur tubuh kita? Kebaikankah? Atau keburukan? Jika jabatan yang kita sandang itu bagian dari kemudahan yang diberikan Tuhan, maka bagaimana cara kita menunaikan amanah itu pun merupakan gambaran dari rasa syukur yang kita miliki. Semua kemudahan yang kita peroleh, apakah digunakan untuk menimbulkan kesulitan orang lain? Ataukah kita mensyukurinya dengan menjadikan kemudahan yang kita miliki untuk memudahkan urusan orang lain? Faktanya, ketika kita berhasil memudahkan urusan orang lain, hati kita merasa nyaman. Kita menikmati perasaan itu sehingga terdorong untuk melakukan hal yang sama lebih sering lagi. Dan karena aktivitas itu berlangsung terus, maka kenikmatannya pun kita rasakan terus sehingga kebahagiaan pun datang.  

4. Rasa syukur atas kesulitan.  
Mudah untuk berucap ‘Alhamdulillah’ saat keadaan kita sedang serba indah. Bagaimana jika kita sedang berada dalam keadaan yang serba susah? Kayaknya rasa syukur atas kesulitan itu rada ngawur. Sekurang-kurangnya ada 2 alasan mengapa justru kita memerlukan rasa syukur atas kesulitan. Pertama, justru ketika berada dalam kesulitan itu setiap kemudahan yang selama ini kita dapatkan menjadi semakin terasa ‘nilainya’. Mungkin dimasa lalu, belum kita syukuri kemudahan-kemudahan itu. Maka inilah saat yang tepat untuk melakukannya. Sekaligus membuat komitmen pribadi; jika nanti mendapatkannya kembali, saya akan senantiasa mensyukurinya. Alasan kedua, mensyukuri kesulitan yang sedang kita hadapi itu boleh dibilang tingkatan rasa syukur yang paling tinggi. Bayangkan, saat Tuhan menguji kita dengan kesulitan yang sangat berat. Bukannya mengeluh. Kita malah bersyukur karena kesulitan itu justru semakin mendekatkan diri kita kepadaNya. Bukankah kita menjadi semakin kyusuk dalam berdoa ketika sedang serba susah? Maka pantaslah juga jika Tuhan berfirman bahwa; dalam kesulitan itu, terdapat kemudahan. Dan kemudahan itu akan didapatkan oleh orang yang menjaga rasa syukur; meski sedang berada di tengah deraan kesulitan.  

5. Rasa syukur atas rasa syukur. 
Ketika kecil, saya pernah merasakan nikmatnya makan nasi hanya dengan jelantah, atau secuil garam bersama para buruh tani sambil selonjoran di pematang sawah. Ketika dewasa, saya sering berkesempatan bermalam di hotel berbintang. Seperti teman-teman lain ternyata kami hanya bisa menikmati berbagai hidangan mewah itu pada 1 atau 2 hari pertama saja. Selebihnya, kami lebih sering menyantap hidangan dipinggir jalan. Makan di emperan itu, jauh lebih terasa nikmatnya. Beberapa teman mengatakan tidak bisa tidur semalam. Banyak pikiran katanya. Padahal, kasurnya berharga belasan juta. Sedangkan satpam di komplek saya tidur nyenyak sambil duduk di kursi pos ronda yang sudah bulukan. Jadi dimana sesungguhnya nikmat itu adanya? Dalam kemewahan ada kenikmatan. Dalam kesederhanaan pun ada kenikmatan. Jadi bukan kondisi fisiknya yang menentukan. Melainkan dalam rasa syukur. Faktanya, tanpa rasa syukur; keberlimpahan yang kita miliki terasa kurang saja dan tak kunjung memberikan kebahagiaan. Dengan rasa syukur, dalam keterbatasanpun kita merasakan kecukupan. Maka rasa syukur itu pun adalah anugerah tersendiri. Mungkin hanya sedikit orang yang dianugerahi rasa syukur. Banyak yang tidak, sehingga apapun yang mereka miliki tidak bisa dikonversi menjadi kenikmatan, apalagi kebahagiaan. Maka bersyukurlah atas rasa syukur yang telah Tuhan tanamkan dalam hati kita. Karena dengan rasa syukur itu, kita punya peluang untuk meraih kenikmatan dalam hidup, dan berhasil menempuh rute yang tepat menuju kebahagiaan didunia dan diakhirat.

Buah kebahagiaan dipetik dari pohon kenikmatan-kenikmatan kecil yang berhasil kita rangkai dalam setiap detak detik kehidupan yang kita jalani. Sedangkan pohon kenikmatan itu tumbuh kokoh karena disangga oleh rasa syukur yang mengakar. Persis seperti nasihat guru kehidupan saya tentang firman Tuhan, bahwa Dia akan menambah kenikmatan bagi orang-orang yang memiliki rasa syukur. Maka jika Anda ingin melakukan proses atau perjalanan meraih kebahagiaan, mari kita memulai perjalanan itu dari titik awal bernama rasa syukur. Insya Allah, apapun yang kita alami selama perjalanan itu akan terasa nikmat. Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang bahagia, hingga diakhir perjalanan ini.

Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman

Catatan Kaki:
Kebahagiaan adalah buah dari pohon kenikmatan yang berakar dari rasa syukur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar